Maulid Nabi Muhammad SAW: Hadirkan Idola Sejati untuk Anak, Lawan Krisis Keteladanan!

Temukan kami di Berbagai Platform

Facebook |Tiktok | Youtube

Untuk mengetahui berbagai karya dan informasi Warga Kampung Rekesan

Maulid Nabi Muhammad SAW: Hadirkan Idola Sejati untuk Anak, Lawan Krisis Keteladanan!

Di era yang dipenuhi oleh karakter fiksi, superhero, dan influencer digital, siapa sebenarnya idola yang patut diteladani oleh anak-anak kita? Di tengah kekhawatiran akan krisis karakter dan lemahnya mental generasi muda, sebuah kampung kecil di Wilayah Grobogan justru memberikan jawaban yang menginspirasi. Kampung Rekesan, Desa Tlogorejo, tidak hanya memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai ritual tahunan, tetapi mentransformasikannya menjadi gerakan sosial untuk menanamkan keteladanan (uswah hasanah) Rasulullah SAW sejak dini, khususnya kepada balita dan anak-anak.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Kampung Rekesan Desa Tlogorejo
Tampilan Grup Whatsapp PKK Ibu-Ibu Kampung Rekesan

Melalui strategi yang sederhana namun powerful, mereka berusaha menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai “idola utama” yang lebih menarik daripada tokoh game atau film. Ini adalah cerita tentang bagaimana semangat Maulid Nabi diwujudkan dalam aksi nyata untuk membentengi masa depan generasi.

Merayakan Maulid dengan Bagi Buku dan Cerita Siroh Nabawiyah

Sebagai bagian dari Desa Tlogorejo, masyarakat Kampung Rekesan dikenal dengan semangat kegotongroyongan dan keagamaannya yang kuat. Dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW, antusiasme mereka tidak hanya ditunjukkan dengan hiasan dan meme profile, tetapi dengan kegiatan yang sarat akan nilai edukasi dan penguatan karakter.

Kegiatan keagamaan seperti pembacaan Barzanzi dan Dhiba’an digelar secara rutin setiap hari selepas sholat Maghrib di dua musholla terdekat Kampung Rekesan, yaitu Musholla Manarul Huda dan Musholla Nurul Qomar. Ritual ini tidak hanya untuk memuji dan mengingat sejarah kelahiran Nabi, tetapi juga menjadi momen berkumpulnya masyarakat untuk merefleksikan kembali pesan-pesan agung yang dibawa Rasulullah.

Namun, yang membedakan peringatan tahun ini adalah fokus mereka yang sangat kuat pada pendidikan anak-anak. Mereka menyadari bahwa ritual untuk orang dewasa harus diimbangi dengan metode pengenalan yang cocok untuk generasi paling muda.

Memanfaatkan Grup WhatsApp untuk Sebar Virus Keteladanan

Dalam dunia yang semakin digital, Kampung Rekesan memanfaatkan teknologi dengan brilliant. Melalui Grup WhatsApp PKK, para ibu-ibu Kampung Rekesan secara aktif dan konsisten membagikan cerita bergambar (komik) tentang kehidupan dan akhlaq Nabi Muhammad SAW.

Umma Rois, selaku penanggung jawab sekaligus Ustadzah TPQ Balita Kampung Rekesan, menjelaskan visi di balik inisiatif ini. “Tujuan dibagikan cerita siroh nabawiyah yang dikutip dari buku cerita bergambar ini adalah agar mudah dicerna oleh semua kalangan, terkhusus anak-anak balita di rumah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rois menekankan pada konten yang dipilih. “Dan lebih penting lagi, siroh yang dibagikan ini fokus kepada akhlaq Nabi dan karakter beliau. Jadi, bukan hanya narasi sejarah, tetapi pelajaran praktis tentang kejujuran, kesabaran, kasih sayang, dan keberanian Rasulullah yang bisa langsung dicontoh oleh anak-anak dalam keseharian mereka.”

Metode ini efektif karena melibatkan peran aktif orang tua. Orang tualah yang akan membacakan dan menjelaskan cerita tersebut, sehingga terjadi interaksi bonding dan transfer nilai yang lebih intim dibandingkan sekadar mendengarkan ceramah.

Mengapa Anak-Anak Sangat Membutuhkan Idola Sejati Seperti Nabi Muhammad SAW?

Pernyataan Choerozak, Ketua RT 02 RW 02 Kampung Rekesan, menyentuh akar persoalan yang dihadapi oleh banyak orang tua dan masyarakat modern. “Masyarakat memerlukan tuntunan sekaligus panutan. Anak-anak sekarang lebih mudah putus asa, karakternya lemah salah satunya karena minimnya keteladanan.”

Beliau dengan tepat mengidentifikasi masalahnya: “Yang mereka serap hanya game dan tokoh-tokoh imajinatif yang sulit untuk ditiru dalam kehidupan nyata. Akibatnya seperti Kreak atau gengster anak-anak itu, bisa dibilang mereka kehilangan panutan dan mengikuti game yang mereka mainkan.”

Ini adalah alarm bagi kita semua. Ketika ruang imajinasi dan aspirasi anak hanya diisi oleh karakter yang seringkali menampilkan kekerasan, sikap instan, dan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan budaya timur serta agama, maka yang terbentuk adalah generasi yang tercabut dari akar identitas dan nilai-nilai luhurnya.

Nabi Muhammad SAW hadir sebagai solusi sempurna atas krisis ini. Berikut adalah alasan mengapa Rasulullah adalah idola terbaik untuk anak-anak:

  1. Karakter yang Lengkap dan Nyata: Berbeda dengan superhero yang fiksi, Nabi Muhammad adalah manusia nyata dengan kisah perjuangan yang dokumentasinya sangat jelas (shahih). Anak-anak bisa mempelajari beliau sebagai anak yatim yang tangguh, pedagang yang jujur, suami yang penyayang, pemimpin yang adil, dan pemberani yang penuh strategi.

  2. Nilai Universal yang Kekal: Nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah—seperti kejujuran (ash-shidq), dapat dipercaya (al-amanah), menyampaikan kebenaran (at-tabligh), dan kecerdasan (al-fathanah)—adalah nilai yang dibutuhkan di segala zaman, dari masa kanak-kanak hingga dewasa.

  3. Mudah Dicontoh dalam Keseharian: Keteladanan Nabi tidak selalu tentang perang besar. Justru yang paling relevan untuk anak-anak adalah bagaimana beliau tersenyum, menyayangi anak yatim, menghormati orang tua, bersikap lembut kepada hewan, dan tidak pernah berbohong. Ini adalah action item sederhana yang bisa langsung dipraktikkan anak.

  4. Membangun Identitas dan Kebanggaan: Mengidolakan Nabi Muhammad SAW akan membangun identitas keislaman yang kuat pada anak. Mereka akan bangga memiliki panutan dengan moralitas tertinggi sepanjang sejarah manusia, sebagaimana diakui oleh tokoh-tokoh non-Muslim sekalipun.

Dari RT Membangun Gerakan Bersama

Kesadaran akan pentingnya hal ini tidak hanya datang dari individu, tetapi juga dari pemimpin formal di kampung tersebut. Choerozak, sang Ketua RT, tidak hanya berkomentar tetapi juga mengambil peran aktif.

“Saya memberikan arahan bersama Pengurus RT lainnya di Kampung Rekesan agar aktif bersama-sama untuk mengenalkan kembali karakter dan tokoh-tokoh Islam, terutama Nabi Muhammad dan sahabatnya untuk menjadi idola baru bagi generasi anak-anak, agar mereka tumbuh dengan baik.”

Arahan ini penting karena menunjukkan bahwa upaya menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang anak yang berkarakter adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya orang tua di rumah saja. Lingkungan masyarakat yang homogen dan supportive seperti kampung memungkinkan gerakan seperti ini untuk berjalan efektif.

Langkah-Langkah Praktis Menghadirkan Nabi sebagai Idola

Apa yang dilakukan Kampung Rekesan bisa menjadi blueprint bagi masyarakat lain. Berikut adalah langkah-langkah praktis yang bisa diadopsi:

  1. Gunakan Media yang Sesuai Zaman: Manfaatkan grup WhatsApp atau platform digital lainnya untuk menyebarkan konten-konten positif tentang siroh nabawiyah. Juga dipinjamkannya buku-buku cerita bergambar yang menarik kepada keluarga yang memiliki anak kecil.

  2. Fokus pada Akhlaq dan Cerita yang “Child-Friendly”: Pilih episode-episode kehidupan Nabi yang mudah dipahami anak. Cerita tentang masa kecil Nabi, kejujurannya hingga dijuluki Al-Amin, atau kasih sayangnya kepada kucing lebih relevan untuk balita daripada cerita peperangan yang kompleks.

  3. Libatkan Orang Tua sebagai “Storyteller”: Kuatkan peran orang tua sebagai penyampai pertama nilai-nilai keteladanan. Berikan mereka bahan dan sumber yang mudah untuk dibacakan, seperti yang dilakukan dengan buku cerita bergambar.

  4. Kreatif dalam Kegiatan: Selain cerita, adakan lomba mewarnai gambar Rasulullah (dengan kaidah yang benar), lomba menghafal sifat-sifat Nabi, atau pentas drama sederhana tentang akhlaq Rasulullah yang melibatkan anak-anak.

  5. Kolaborasi dengan Berbagai Pihak: Seperti di Kampung Rekesan, kolaborasi antara pengurus RT, PKK, dan pengajar TPQ adalah kunci sukses. Sinergi membuat program berjalan terarah dan berkelanjutan.

Maulid Bukan Sekadar Peringatan, Tapi Aksi Nyata

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kampung Rekesan adalah contoh nyata bagaimana nilai-nilai keagamaan bisa dihidupkan untuk menjawab tantangan zaman. Mereka tidak berhenti pada seremoni, tetapi bergerak lebih jauh untuk menanamkan keteladanan Rasulullah SAW ke dalam hati sanubari generasi penerus.

Mereka memahami bahwa memperingati kelahiran Nabi adalah dengan menghidupkan sunnah dan akhlaqnya. Dan cara terbaik untuk menghidupkannya adalah dengan menjadikan beliau sebagai idola sejati yang dikenali, dicintai, dan diteladani oleh anak-anak sejak usia dini.

Di tangan anak-anak inilah masa depan umat dan bangsa berada. Dengan memberikan mereka panutan yang tepat, kita tidak hanya memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi kita sedang ikut serta membangun peradaban yang lebih baik, dimulai dari kampung-kampung kecil seperti Kampung Rekesan, Desa Tlogorejo.

Mari jadikan momen maulid tahun ini sebagai titik awal untuk lebih giat lagi memperkenalkan Rasulullah SAW—sang manusia paripurna—sebagai idola abadi bagi anak-anak kita.